Minggu, 20 Februari 2011

PENDEKATAN SEJARAH DALAM MEMAHAMI PERADABAN ISLAM

MAKALAH
PENDEKATAN SEJARAH DALAM MEMAHAMI PERADABAN ISLAM

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dari Dosen Drs. H. Munir






Disusun Oleh :
Ari Saeful Bahri
58440801


Disusun oleh :
ARI SAEFUL BAHRI (58440801)
ASTRI KRISTINANINGSIH (
MUAMAR (5844




Kelompok 1
TARBIYAH / IPS C / SEMESTER VI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON 2011
Pendekatan Sejarah Dalam Memahami Peradaban Islam
A. PENDAHULUAN
Terminologi peradaban atau kadangkala disebut tamadun dibicara dan dikupas oleh para ahli dari berbagai disiplin mengikut pandangan masing-masing. Biarpun begitu, kerana berlainan latar belakang ilmu dan disiplin para ahli, menyebabkan wujudnya penafsiran yang berbeda.
Fokus utama makalah ini ialah untuk memberi gambaran dan seterusnya menjelaskan konsep peradaban atau tamadun berdasarkan aspek bahasa (semantik) dan pandangan beberapa ahli. Kemudian menjelakan rauang lingkup sejarah peradaban islam dan hubungannya dengan kitab suci Al- Qua’an dan Al-Hadits. Untuk lebih jelasnya mari kita simak dan pahami hasil makalah yang kami buat ini.

B. DEVINISI PERADABAN
Dalam bahasa Inggeris, istilah peradaban di ambil dari kata civilizations. kata civilize berarti memperbaiki tingkahlaku yang kasar atau kurang sopan, menjinakkan (to tame) dan menyelaraskan mengikut keperluan masyarakat. Ringkasnya civilized dikatakan keluar dari kehidupan primitif atau barbarian kepada kehidupan yang mempunyai kehalusan akal budi dan kesopanan. Nampaknya aspek tingkahlaku atau moral lebih ditekankan dalam definisi civilizations ini.
Istilah civilizations dalam bahasa Inggeris itu dikatakan lahir daripada perkataan Latin yaitu civitas yang membawa maksud city atau bandar. kata peradaban lebih sinonim dengan bandar atas alasan tiap-tiap tamadun yang ternama memiliki bandar-bandar yang besar dan ciri-ciri sesebuah peradaban mudah ditemui di kawasan bandar.
Dalam bahasa Arab, beberapa istilah sering digunapakai bagi menjelaskan konsep peradaban. Beberapa istilah seperti madaniah, hadarah dan tamaddana. Perkataan peradaban lahir daripada perkataan maddana yang mempunyai dua pengertian, iaitu merujuk kepada perbuatan membuka bandar atau kota, serta perbuatan memperhalus budi pekerti. Daripada maddana muncul perkataan maddani yang membawa erti pembangunan perbandaran serta kehalusan budi pekerti yang terpuji.
Hadarah pula dikaitkan dengan keadaan kehidupan yang berada pada tahap maju. Lawannya ialah badawah yang bererti mundur. Daripada erti perkataan hadarah ini dapat difahamkan bahawa apa yang kita namakan peradaban itu adalah berasal daripada bandar. Hal ini kerana bandar merupakan tempat yang sesuai untuk melahirkan kemajuan disebabkan di situ terdapat berbagai benda dan kemudahan yang boleh menjadi asas kepada kelahiran dan peningkatan tamadun. Kehidupan hadarah banyak tertumpu kepada unsur-unsur yang bercorak perdagangan, kemajuan teknologi, dan pengkhususan pekerjaan. Kota-kota dalam bahasa Arab dipanggil mudun yang memiliki ciri-ciri tamadun.
Perkataan tamadun diambil daripada kata dasar bahasa Arab Tamaddana atau Madana yang mengandungi erti pemilihan sesuatu lokasi sebagai tempat tinggal, membangun sesuatu kawasan hingga menjadi suatu perbandaran. Kamus al-Munjid menjelaskan istilah tamadun adalah terbitan daripada lafaz tamaddana, iaitu fenomena daripada perubahan cara kehidupan daripada corak liar atau nomad kepada kehidupan yang berbentuk maju.
Dari perspektif Islam, peradaban dikaitkan dengan perkataan umran, adab dan dinnun atau dainun. Umran membawa makna harta, kawasan yang didiami, berkembang subur dan maju, perhimpunan, melawat dan hidup berpanjangan . Istilah adab pula merujuk kepada jemputan ke sesuatu majlis. Adbun pula bermakna memperelok tingkah laku yang menunjukkan pemikiran dan roh. Ta’dib adalah proses membentuk disiplin yang baik. Perkataan dainun membawa maksud kepatuhan, penyerahan; cara hidup, pinjaman; hakim atau pemerintah; madinah (sebuah bandar yang ditadbir oleh hakim atau pemerintah).

C. SUBSTANSI PERADABAN ISLAM
Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibn Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban atau suatu umran harus dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir umran besar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakat dan akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu umran bagi Ibn Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.
Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tauhid), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintahNya (syariat).
Sejalan dengan Sayyid Qutb, Syeikh Muhammad Abduh menekankan bahwa agama atau keyakinan adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa purbakala seperti Yunani, Mesir, India, dll, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau kepercayaan. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (batiniyah) adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriyah (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu.
Jika agama atau kepercayaan merupakan asas peradaban, dan jika agama serta kepercayaan itu membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tindakan nyatanya atau manifestasi lahiriyahnya, maka sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas bagi setiap peradaban dunia.
Para pengkaji peradaban, filsafat, sains dan agama kini telah banyak yang menggunakan worldview sebagai matrik atau framework. Ninian Smart menggunakannya untuk mengkaji agama, S.M. Naquib al-Attas, al-Mawdudi, Sayyid Qutb, memakainya untuk menjelaskan bangunan konsep dalam Islam, Alparslan Acikgence untuk mengkaji sains, Atif Zayn, memakainya untuk perbandingan ideologi, Thomas F Wall untuk kajian filsafat, Thomas S Kuhn dengan konsep paradigmanya sejatinya sama dengan menggunakan worldview bagi kajian sains.
Meski mereka berbeda pendapat tentang makna worldview, mereka pada umumnya mengaitkan worldview dengan peradaban atau seluruh aktivitas ilmiyah,sosial dan keagamaan seseorang. Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview sebagai “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.” Penekanannya pada fungsi worldview sebagai motor perubahan sosial dan moral. Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”.
Dalam kaitannya dengan aktivitas ilmiyah Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktivitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktivitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu. Dalam konteks sains, hakekat worldview juga dapat dikaitkan dengan konsep “paradigma” Thomas S Kuhn . Istilah Kuhn “perubahan paradigma” (paradigm shift) menurut Edwin Hung sebenarnya dapat dianggap sebagai weltanschauung Revolution (revolusi pandangan hidup. worldview berkaitan erat secara konseptual dengan segala aktivitas manusia secara sosial, intelektual dan religius. Dan yang terpenting adalah bahwa worldcview sebagai sistem kepercayaan, pemikiran, tata pikir, dan tata nilai memiliki kekuatan untuk merobah. Maka dari itu, aktivitas manusia dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya yang kemudian menjadi peradaban bersumber dari worldview.
Jika makna worldview adalah konsep nilai, motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung itu semua. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik secara integral. Ayat-ayat al-Qur’an jelas-jelas adalah konsep seminal yang memproyeksikan pandangan Islam tentang alam semesta dan kehidupan yang disebut pandangan hidup atau pandangan alam Islam (worldview, al-taÎawwur al-Islami, al-mabda al-Islami) itu. Bukan hanya itu, konsep-konsep itu diberi medium pelaksanaannya yang berupa institusi yang disebut din, yang di dalamnya terkandung konsep peradaban (Tamaddun).
Oleh sebab itu dalam Islam worldview memiliki istilahnya sendiri. Bagi al-Mawdudi worldview Islam adalah Islami Nahzariyat (Islamic Vision) yang berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (syahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunisecara menyeluruh”.
Menurut Sayyid Qutb worldview Islam adalah al-tashawwur al-Islami, yang berarti “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.” Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-Islami yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Namun Shaykh Atif juga menggunakan kata-kata mabda untuk ideologi non-Muslim. Ini berarti bahwa tidak selamanya berarti aqidah fikriyyah. S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam li al-wujud).
Jadi sebagaimana peradaban lainnya, substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi (aqidah) dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim. Itulah pandangan hidup Islam. Jika pandangan hidup itu berakumulasi dalam tata pikiran seseorang ia akan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupannya dan akan menghasilkan etos kerja dan termanifestasikan dalam bentuk karya nyata. Dan jika ia memancar dari pikiran masyarakat atau bangsa maka ia akan menghasilkan falsafah hidup bangsa dan sistem kehidupan bangsa tersebut. Jadi substansi peradaban Islam adalah pandangan hidup Islam. Namun elemen pandangan hidup yang terpenting adalah pemikiran dan kepercayaan.
Menurut Ibn Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu :
1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi
2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan
3) kesanggupan berjuang untuk hidup.
Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia. Dalam hal ini pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari pandangan hidup.

D. HUBUNGAN KITAB SUCI AL-QUR’AN DAN AL-HADITS DENGAN KEBUDAYAAN
Sebagai umat Islam, kita meyakini Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber ajaran agama Islam, yang telah kita ketahui definisinya, Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya bernilai ibadah, dan Al-Hadits adalah sabda ( qoul ), perbuatan ( fi’li ), ketetapan ( taqrir ) dan sifat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam proses sejarah, ulama dalam berbagai generasii dengan berbagai usaha untuk memahami maksud-maksud yang ada pada kitab-kitab tersebut. Dalam memahami Al-Qur’an, sebagian ulama cenderung pada pendekatan kualitas keutamaan structural, mereka mengajukan metode Tafsir bi Al-Ma’tsur ( bi Al-Riwayat ) dengan prosedur penafsiran sebagai berikut :
1. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an.
2. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan hadits Nabi.
3. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan qoul sahabat.
Begitu juga dengan Al-Hadits, ulama meverifikasi dengan melakukan dua pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan kuantitatif, dengan menghitung jumlah Rowi hadits pada setiap periode yang melahirkan hadits ahad dan mutawattir.
2. Pendekatan kualitatif, yang melahirkan hadits-hadits, yaitu shahih, hasan dan dha’if.
Dari penjelasan diatas, kita bias mengetahui hubungan masing-masing dengan kebudayaan. Adapun hubungan Al-Qur’an dengan kebudayan terdapat pada prosedur penafsiran Al-Qur’an bi al-ma’tsur karena merupakan produk pemikiran ulama’ dalam rangka memahami kandungan makna Al-Qur’an. Dan juga bisa disebut peradaban karena prosedur tersebut sudah maju ( terutama dari segi semangat memahami dan menjalani kitab suci ). Sedangkan hubungan Al-Hadits dengan kebudayaan terdapat pada ilmu verifikasi hadits ( ulum al hadits) karena merupakan gagasan ulama’ dan bisa dikatakan peradaban karena verifikasi dilakukan oleh ulama’. Akan tetapi sebagian umat Islam merasa keberatan apabila ilmu Al-Qur’an dan verifikasi hadits disebut sebagai kebudayaan atau peradaban.

E. RUANG LINGKUP DARI SEJARAH PERADABAN ISLAM
Karena Islam lahir di Arab, maka ruang lingkup dari sejarah peradaban Islam membahas tentang riwayat Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa wahyu Tuhan, antara lain :
1. Sebelum Nabi dilahirakn yakni apa saja yang berkembang menjelang Rasulullah lahir yang dipengaruhi oleh budaya bangsa-bangsa disekitarnya yang lebih awal maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut melalui beberapa jalur :
a. Hubungan dagang dengan bangsa lain, seperti bangsa Syiria,Persia, Mesir dan Romawi yang telah mendapat pengaruh Hellenisme ( kebudayaan Yunani dulu yang mempengaruhi perkembangan fikir ).
b. Melalui kerajaan protektorat, seperti kerajaan Hirah dibawah perlindungan Persia dan kerajaan Ghassa dibawah perlindungan Romawi.
c. Masuknya misi Yahudi dan Kristen, tapi meski agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke Arab, bangsa Arab kebanyakan masi menganut agama asli mereka yakni menyembah berhala.
2. Riwayat Rasulullah dilahirkan sampai beliau wafat, yakni sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad dari kelahirannya dalam keadaan yatim menjadi yatim piatu sampai beliau mendapat wahyu dari Tuhan dan berdakwah menyebarkannya hingga beliau wafat.
3. Kemajuan Islam yang diteruskan oleh para sahabat seperti masa khulafaurrasyidin, bani Umayyah, dan bani Abbasiyah.
4. Masa disentrigasi yakni adanya dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari kekuasaan bani Abbasiyah.
5. Masa kemunduran yakni masa dimana adanya persaingan antar bangsa, kemerosotan ekonomi, koflik keagaman dan lain-lain.
6. Penyebaran Islam di belahan dunia barat dan lainnya, seperti Islam di Spanyol dan pengaruhnya di Eropa, di Asia dan lainnya.





F. KESIMPULAN
Kebudayaan berasal dari bahasa Arab Al-Tsaqafah dan bahaasa Inggris Culture. Kebudayaan mempunyaai banyak pengertian diantaranya, kebudayaan merupakan bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu suatu masyarakat. Menurut Selo Soemarjan, kebudayaan merupakan semua karya, rasa , dan cipta masyarakat. Dan kebudayaan ini merupakan sesuatu yang bersifat ideal yang berupa cita-cita, rencana, bahkan keinginan atau apa yang kita rindukan. Kebudayaan terrefleksi dalam seni, sastra, religi dan moral.
Peradaban berasal dari bahasa Arab Al-Hadharah dan bahasa Inggris Civilization. Peradaban merupakan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknoligis dan juga merupakan cara hidup yang sudah maju, yang mana dapat berupa apa yang telah dicita-citakan, dan peradaban ini merupakan terrefleksi dalam politik, ekonomi dan juga teknologi.
Oleh karena itu kebudayaan merupakan strategi-strategi yang dimiliki manusia untuk mewujudkan suatu rencana-rencana dalam kehidupan lebih maju yang disebut dengan peradaban.
ruang lingkup dari sejarah peradaban Islam membahas tentang riwayat Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa wahyu Tuhan.













DAFTAR PUSTAKA

- Karim, Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Jogjakarta: Pustaka Book Publisher.
- Mubarok, Jaih. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Islamika.
- Mahdi Shuid, 2000. “Terminologi Peradaban: Sukar Didefinisikan Mudah Diperjelaskan” dalam Wacana Dialog Peradaban, Jilid 1. Puchong: MHF Publication,
- Muhammad Abdul Jabbar Beg, 1982. Islamic and Western Concepts of Civilization, Kuala Lumpur: University of Malaya Press,
- Chandra Muzaffar et.al, 2001. “Pengenalan Ilmu Ketamadunan” dalam Tamadun Islam dan Tamadun Asia, Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya,
- Marzuki Hj. Mahmood, “Konsep Tamadun Dari Pelbagai Perspektif” dalam Abdul Rauh Yaacob, 1994. Lembaran Sejarah dan Tamadun Islam, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,
- http:// Banihamzah.wordpress.com/2007, Makna-Peradaban-Islam.
- http:// www.google.com/Pengertian Sejarah-Peradaban-Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar